Ahlan Wasahlan,Ikuti terus blog kami karena Insya Allah website ini akan kami Update tiap hari selain dapat Ilmu anda juga bisa beramal gratis dengan mngklik iklan-iklan yang ada jazaakumulloh

Jawaban Habib Munzir tentang Bid'ah & Tahlil

BID'AH 
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Apa kabar Habieb..semoga Allah melindungi Habieb dan keluarga serta jama'ah majelisrasulullah.
Bieb.. ane tuh mau tanya . ane bingung setiap ane denger pengajian dikantor ane dan
ane sering bergaul dengan orang yang mengklaim bahwa mereka salafi.
Dalam semua kesempatan untuk berpidato pengajian mereka sering mengucapkan kalimat pembuka yang diambil dari hadits Nabi SAW "....kullu bid'atin dholalah wakullu dholalatin finnar.." dan mereka tidak mempercayai adanya bid'ah khasanah.
pertanyaannya bagaimana sebenarnya bid'ah itu?
apa batasan bid'ah itu?


benarkah tidak ada bid'ah khasanah?
dan satu lagi bieb. tentang masalah tahlilan tolong dijelaskan dalielnya nashnya yah bieb. soalnya apakah tahlilal itu juga bid'ah karena kalimatnya sdh diramu sedemikian rupa. setiap amalan yang baru pasti akan ditolak apakah memang benar Nabi kita mengajarkan hal demikian. dan juga kenapa surat Alfatihah dijadikan surat untuk pembuka dan pengirim do'a.

syukron katsiron.
 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh
Alhamdulillah, dan banyak banyak terimakasih atas doanya, alhamdulillah saya sehat wal afiat, dan mohon doanya agar terus diberi kekuatan menjalankan dakwah dengan baik, alf Syukron atas antum dan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin

Bid'ah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw, Bid'ah terbagi dua, Bid'ah hasanah dan Bid'ah Munkarah. Hadits yg sering mereka sebut itu, adalah ucapan Rasul saw untuk Bid'ah Munkarah (seperti shalat dg bahasa Indonesia dll).

Bid'ah hasanah adalah hal yg diada adakan setelah wafatnya Rasul saw dengan tanpa melanggar syariah, dan dengan tujuan maslahat Muslimin dengan landasan Hadits Rasul saw : "Barangsiapa yg membuat ajaran kebaikan (pahala) dalam islam (tidak melanggar syariah), maka baginya pahalanya, dan barangsiapa yg membuat ajaran buruk (dosa) maka baginya dosanya". (HR Muslim).

Orang yg menafikan Bid'ah hasanah, maka ia menafikan dan membid'ahkan Kitab Al Qur'an, karena tak ada perintah Rasul saw untuk membukukannya dalam satu kitab, dan itu adalah Ijma' shahabiy radhiyallahu'anhum.

Demikian pula Kitab Bukhari, Muslim, dan seluruh kitab hadits., karena pengumpulan hadits Rasul saw dalam satu kitab merupakan Bid?ah hasanah yg tak pernah diperintahkan oleh Rasul saw.

Demikian pula ilmu Nahwu, sharaf, Musthalahulhadits, dan lainnya hingga kita memahami derajat hadits, inipun semua Bid'ah hasanah.

Demikian pula shalat Tarawih berjamaah, demikian pula ucapan Radhiyallahu atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasul saw, tidak pula oleh sahabat, walau itu disebut dalam alqur'an bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat, atau Rasul memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu utk sahabatnya, namun karena kecintaan Tabi'in pada sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid'ah hasanah dengan dalil hadits diatas.

Lalu muncul kini pula Al Qur'an yg di kasetkan, di CD kan, di program di Handphone, diterjemahkan, apa ini semua?, ini semua Bid'ah..!, namun Bid'ah hasanah, maka semakin mudah pula bagi kita untuk mempelajari Al Qur'an, untuk selalu membaca Al Qur'an, untuk menghafal Al Qur'an..dan tidak ada yg memungkirinya termasuk mereka sekte wahabi.

coba kalau Al Qur'an belum dibukukan oleh sahabat, masih bertebaran di tembok tembok, di kulit onta, di hafalan dan sebagian ditulis.., maka akan muncul beribu ribu alqur'an di zaman ini, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, masing masing dg riwayat sendiri dan hancurlah Al Qur'an.. namun dengan adanya Bid'ah hasanah inilah kita masih mengenal Al Qur'an dengan utuh.
Demikian pula berkat Bid'ah hasanah ini pula kita masih bisa mengenal Hadits.

Dan bahwa menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas di Shahih Muslim bahwa seorang wanita bersedekah untuk Ibunya, dan adapula riwayat lain bahwa seorang sahabat menghajikan Ibunya yg telah wafat, dan Rasul saw pun menghadiahkan Sembelihan beliau saw untuk dirinya dan untuk ummatnya, dan hal ini merupakan Jumhur Ulama seluruh madzhab, dan tak ada yg memungkirinya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Syafii, bila si pembaca tak mengucapkan bahwa 'Kuhadiahkan', atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..?, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi'iyah mengatakan pahalanya tak sampai. Maka tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya.
Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa' min 'amalilghair (mendapat pahala atau manfaat dari amal selainnya). (Rujuk Tahqiiqul Aamaal, fiima yanfa?ulmayyit minal a?mal- Imam Muhammad bin Alwi Almalikiy)

Mengenai ayat : "DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA", maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat (DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN), dan pula hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka putuslah amalnya terkecuali 3, shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasul saw menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk berdoa : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA2 KAMI DAN BAGI SAUDARA SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10)

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir..
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur'an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur'an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur?an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab, bila mereka melarang dan membid'ahkannya maka mana dalilnya?, munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur?an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ngada dari kesempitan pemahamannya.

Dan sebagaimana kita telah mengetahui bahwa boleh saja mengirim amal berupa ayat Alqur'an atau dzikir dan lainnya, namun kita memahami dari beberapa hadits shahih bahwa Alfatihah adalah surat yg paling mulia dalam Al Qur'an, digelari pula dg Ummul Kitaab, dan digelari pula dg Ummulqur'an (Rujuk Shahih bukhari, dan Tafsir Baghawi bab surat Fatihah) juga tersebut pula dalam riwayat Muhadditsin lainnya, maka sebagian salafuna lebih senang menghadiahkan Fatihah, karena pendek dan mudah bagi orang awam, namun Dahsyat kemuliaannya.

Wallahu a?lam.


Sumber 

1 komentar:

  1. Pak Ustad yg jujur, baik hati, tdk sombong, dan suka menabung, saya mau tanya. Bolehkah kita sholat rawatib/tahiyyatul masjid berjamaah secara rutin karena ada hadits bahwa sholat berjamaah itu pahalanya 25/27 derajat? Terima kasih.

    BalasHapus

Komentar anda adalah ruh dari blog ini, akan sangat kami hargai jika anda berkenan mencantumkan nama dan alamat email Terima kasih